Perbandingan Yesaya 1 dengan Qs Al-Alaq 1-8

sebelumnya Duladi (penghujat Islam)menantang memperbandingkan ayat AlQur’an dan Alkitab di situsnya


duladi menulis:

Karena Alquran adalah sebuah kitab yang isinya tak lebih dari kumpulan perkataan-perkataan, maka alangkah baiknya bila kita mencoba membandingkan Alquran dengan salah satu kitab saja yang ada dalam Bibel (karena Bibel terlalu luas bila coba dibandingkan dengan satu kitab Alquran). Bibel tidak hanya berisi kumpulan perkataan, tapi juga berisi kisah sejarah masa lampau. Maka dari itu, akan sebanding bila Quran coba kita perbandingkan dengan kitab nabi Yesaya, bagaimana Romadi?

Yesaya 1:2. Dengarlah, hai langit, dan perhatikanlah, hai bumi, sebab TUHAN berfirman: "Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku.
Yesaya 1:3 Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya."

Coba kita buka ayat pertama dari Al-Alaq ayat 1 & 2:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah."


===================
id Amor / romadi menjawab

Akan saya layani “Tantangan” anda sesuai ayat yang anda pilih diatas! = sebelumnya saya tantang untuk memperbandingkan secara teratur Duladi (penghujat Islam) nggak punya nyali, dan sekarang ia pilih-pilih ayat untuk di bandingkan dengan ayat yang pertama kali di wahyukan!!

Sekarang kita bandingkan dengan Qs Al Alaq 1-8

1. kita bandingkan isi/muatan perintahnya:

AlQur’an memerintahkan membaca, kemudian mengenali betul apa asal-usulnya = jangan hanya menangkap secara “mentah” ungkapan ini,sebagai contoh penilaian mentah adalah tulisan seperti ini!


Duladi menulis

***Info seperti ini adalah informasi yang sudah basi, siapapun tahu kalau manusia terlahir dari segumpal darah di dalam rahim ibu.

Kalau kita mau tilik kesinkronan atau hubungan antar ayat, seperti kalimat pertama dengan kalimat kedua tak ada hubungan yang logis. Ibaratnya ucapan orang yang sedang mabuk, asal ngoceh dan asal mengaitkan kalimat yang dirasa indah menurutnya, padahal kalau didengar oleh orang lain yang mendengarnya akan terasa janggal dan tak bermutu.***

Romadi respon :

tulisan yang saya kutip diatas sangat jelas sekali betapa mentah dan piciknya akal orang yang menilai seperti itu! = ia hanya melihat dari kulitnya saja!

Perintah ini ditangkap secara dangkal dan picik hanya sebatas itu! Ia sama sekali tidak berfikir banyak orang yang tahu bahwa ia adalah berasal dari rahim ibu dan segumpal darah tetapi berapa banyak yang lupa diri dalam memahami asal-usulnya tersebut!

Sikap lupa diri membuat ia bersikap angkuh,sombong ,merendahkan sesama!
Karena kalau ia sadar betul akan asal usulnya maka apa yang akan ia sombongkan?
Karena ia hanya berasal dari sesuatu yang menjijikkan!

Maka dalam hal ini siapa yang jelas-jelas seperti orang mabuk dan hanya sekedar mengoceh? Karena kenyataannya antara yang ia tanggapi dan tanggapannya sangat jauh sekali konteksnya!
Maka pernyataan duladi tersebut seperti ia sedang menceritakan dirinya sendiri,yang sedang ngoceh dan seperti orang mabuk nggak karuan!

kita lanjutkan tentang hikmah/hikmat Qs Al-Alaq.

Perintah pertama kali adalah membaca bukan mendengar,mengatakan.mengakui dll

Apa hikmat dibalik perintah “baca” kita perhatikan betul makna baca!

Baca adalah :1 memperhatikan dengan apa yang ia mampu sehingga ia tahu apa yang ia lihat = kalau ia punya mata “fisik” yang normal maka ia harus memperhatikan betul yang ia lihat, sampai ia mengerti betul apa yang ia lihat! Apakah itu berbentuk kejadian-kejadian,peristiwa,huruf-huruf dll = yang akhirnya ia akan mendapatkan pengetahuan dari apa yang ia lihat!

Maka kalau mata”fisiknya” tidak berfungsi dengan sebagaimana mestinya ! maka ia bisa membaca dengan “rabaan” karena ia masih punya “mata hati”! kekurangannya masih bisa teratasi dalam ia mendapatkan pengetahuan! Masih bisa Membaca apa yang ia sentuh = bisa membaca huruf braile

Tetapi sekarang kita bandingkan secara spesifik perintah “baca” dan “mendengar” dalam konteks perbandingan Qs Al-Alaq dan Kitab Yesaya!

Kalau orang yang pendengarannya/telinganya tidak berfungsi sebagaimana mestinya apakah ia bisa menggunakan “pendengaran lain”?

Maka rasanya kalau orang yang telinganya tidak berfungsi tidak berfungsi sebagaimana mestinya ,apakah ia bisa mendengar untuk mendapatkan pengetahuan lain,selain dengan cara membaca? (membaca bahasa isyarat)

Ternyata dalam hal perbandingan soal “baca” dan “mendengar” ternyata kandungan kata membaca lebih mendalam hikmat/hikmah yang bisa di ambil

Setelah perintah “baca” sebagai jalan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan,maka ada bagian selanjutnya yang sangat penting dari perintah baca,yaitu dalam hal “membaca/ mendapatkan ilmu” harus dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan.

Hikmat/hikmahnya apa?

Subtansi pesan petingnya adalah “ ingat kepada Tuhan yang menciptakan”,yaitu ungkapan : dengan nama Rabb(Tuhan) yang menciptakan!

Maka sebuah hikmat pentingnya sebuah keseimbangan antara “Fikir” dan “Dzikir” antara akal dan hati = antara menganalisa dan memahami sesuatu harus diimbangi bahwa semua ini ada yang menciptakan= berfikir tetapi diimbangi kesadaran bahwa semua ada yang menciptakannya!

Maka keilmuan yang ia dapat semestinya semakin mendekatkan dirinya kepada “Sang pencipta” bukan sebaliknya.

Sebuah analisa dan pencarian ilmu yang “liar” sehingga menjauhkan ia kepada “sang pencipta”!

Sekarang kita lanjutkan pada ayat ke duanya!

2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

apa hikmahnya?

Persoalan utamanya bukan persoalan tahu atau tidak tahu tetapi apakah ia memahami apa hikmat mengenai hal itu!

Yaitu sebuah penyadaran/mengingatkan bahwa manusia berasal dari sesuatu yang menjijikan,hina yang seperti tidak berarti dll.

Pesan ini adalah pesan “agar tahu diri akan siapa dirinya” bukan sikap lupa diri,karena dengan sikap tahu diri maka ia akan menjauhkan sikap kesombongan,keangkuhan, membangga-banggakan asal usul keturunan!

Karena berasal dari manapun anda apakah keturunan Ningrat,rakyat jelata,orang miskin,orang kaya, dari bangsa Israel,Eropa,Asia,Arab dimata Tuhan tidak ada yang lebih ,yang membedakan adalah : “ketakwaan”sikap tunduk dan patuh akan perintah-perintah dari Tuhan, sebagaimana di ayat lain:

13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangan, tetapi semua adalah ujian!
di beri kelebihan diuji akan “rasa syukurnya” kepada Tuhan akan karunia kenikmatan yang telah ia terima, tetapi saat iadi berikan kekurangan adalah diuji “kesabarannya”

justru manusia yang suka membangga-banggakan asal-usul, merendahkan berdasarkan asal-usul yang manusia tidak punya hak pilih dan tak pernah memilih dilahirkan dari mana!

Apakah ada orang yang menjadi orang Arab karena sebelumnya ia memilih sebagai Arab?
Apakah ada orang yang menjadi orang Israel karena ia memilih sebagai orang Israel?
Apakah ada orang yang menjadi orang cina karena ia memilih jadi orang cina?
Apakah kita yang sekarang ini sebagai bagian warga Negara Indonesia sebelumnya pernah memilih sebagai orang Indonesia?
Dll

Rasanya tidak pernah bukan??
Jadi kalau ada manusia yang begitu apriori terhadap sebuah bangsa maka secara sadar ia mengikuti langkah-langkah syetan, karena kebanggaannya terhadap asal-usulnya dan bersikap meremehkan/melecehkan orang lain hanya berdasarkan asal-usul yang ia dan orang tersebut tidak pernah memilih dari mana ia berasal!

Dan sikap kebanggaan tersebut membuat ia enggan tunduk dan patuh akan perintah Tuhan maka ia tak layak berada di Syurga = harus terusir!!!

Makhluk yang sudah berada di syurga sombongpun harus di usir/tidak layak disana apalagi manusia yang penuh dengan dosa dan kekurangan masih menyombongkan diri,maka ia sangat tidak layak untuk mendapatkan sebuah “Kenikmatan Abadi”

Maka soal ini sangat sesuai sekali dengan pesan nabi Muhammad:

“ tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan.walaupun hanya secuil”

jadi begitu aneh dan konyolnya ada orang yang “menuduh” bahwa Islam mengajarkan kesombongan,yang hanya didasari pemahaman dan pengetahuan yang dangkal serta picik soal Islam!

Sekarang kita lanjutkan lagi dalam ayat 3-5

3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Kembali lagi ditegaskan untuk “membaca” kalau sebelumnya penyadaran akan asal-usul dan senantiasa ingat Tuhan sebagai Pencipta,maka kelanjutannya adalah soal “ manusia yang pada awalnya “tidak mengetahui apa-apa” karena Kemurahan Tuhan maka manusia jadi tahu = mendapatkan/mempunyai ilmu yang diberikan melalui Kalam/perantara

Tetapi bagaimana sikap dan tanggapan manusia akan “Kemurahan Tuhan” tersebut?

Bisa kita lihat ayat berikutnya:

6. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
7. karena dia melihat dirinya serba cukup.
8. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).

Setelah manusia mendapatkan Kemurahan Tuhan ternyata justru sikapnya melampaui batas = bersikap berlebih-lebihan!

Manusia kebanyakan lupa diri saar diberi kelimpahan kenikmatan karena merasa bahwa apa yang di ketahuinya sudah cukup!
Untuk membuat kesimpulan-kesimpulan yang sangat-sangat jauh dari kebenaran, dan ia membangga-banggakan apa yang ia ketahui sehingga,
ia tidak segan-segan mencaci maki hukum-hukum Tuhan!
Menyalahkan ketentuan Tuhan dll

Manusia banyak yang tidak menyadari bahwa hidup didunia ini bukan abadi ada saatnya harus meninggalkannya dan harus kembali menghadap Tuhan untuk mempertanggung jawabkan setiap perbuataan yang ia lakukan dikehidupan dunia!

Sekarang kita bandingkan dengan kitab Yesaya

2. kita bandingkan siapa yang diperintah dalam ayat tersebut!

a. perbandingan pesannya untuk siapa?

Untuk lebih jelas lagi kita perlu perhatikan mulai ayat pertamanya

Yesaya 1:1
Penglihatan yang telah dilihat Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem dalam zaman Uzia,Yotam,Ahas dan Hizkia,Raja-raja Yehuda.

Maka setelah kita memperhatikan betul maka akan sangat jelas bahwa Kitab yesaya bukan merupakan Firman Tuhan tetapi hanya pendapat Yesaya bin Amos!

Dan pesannyapun sangat jelas hanya untuk “sekelompok manusia” bukan pesan universal buat seluruh manusia!

Jadi sampai disini saja akan ada pertanyaan:
Apakah orang-orang yang membangga-banggakkan (Duladi) kitab ini orang Israel?
Atau keturunan Israel?

Bukan keturunan bangsa lain(non Israel) yang diilustrasikan “ANJING” oleh Yesus?

QS al-alaq sangat jelas sekali bahwa yang diperintahkan membaca adalah “manusia”
Sedangkan dalam Yesaya 1:2-3 yang diperintah langit dan bumi,maka dalam hal ini saja sangat jelas Al Qur’an lebih jelas dan tegas bahwa ayat ini untuk manusia,tetapi dalam Yesaya 2-3 hanya melihat ayat yang anda sampaikan juga jelas dan tegas bahwa yang diperintah mendengar adalah langit dan bumi=

Maka apakah Duladi dan Romadi termasuk golongan manusia ataukah Bumi/langit??

b. perbandingan dalam menggunakan ilustrasi

perhatikan Yesaya 1:3

Yesaya 1:3 Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya."

Dalam ilustrasi yang disampaikan Yesaya bin Amos tersebut,mengilustrasikan soal “pengenalan lembu dan Keledai terhadap Tuannya dan Palungan yang disediakan =subtansi pesannya adalah soal kenal/tidak lupa.

Apa hikmah yang dibangga-banggakan Duladi kalau ilustrasi ini lebih baik/lebih hebat dibandingkan soal ilustrasi didalam alQur’an akan pentingnya asal-usul,dan harus didasari dengan menyebut namanya?

Kalau sebuah perintah yang harus didasari akan menyebut namannya maka ini tidak sekedar kenall atau tahu siapa “penciptanya” tetapi lebih dari itu .yaitu “CINTA” kepada Tuhan penciptanya sepenuh hati tidak sekedar mengenal seperti “LEMBU DAN TUANNYA” atau tidak sekedar kenal seperti “KELEDAI DENGAN PALUNGANNYA”!

Maka sangat jelas dalam hal ilustrasi ternyata kata yang digunakan didalam AlQur’an lebih mendalam Hikmatnya.

Kesimpulannya:

Setelah memperbandingkan kedua versi ayat yang ada di dalam AlQur’an dibandingkan di Alkitab maka sangat jelas sekali perbedaannya!
Justru tuduhan-tuduhan Duladi rasanya lebih pantas untuk yang ia banggakan!
Perbedaan antara yang berasal dari Tuhan dan berasal karangan manusia memang akan sangat jelas perbedaannya!

=============

duladi menulis

Itukan karena otak para muslim yang telah didoktrinasi secara sesat? Siapa bilang Alquran berasal dari Tuhan? Dan atas dasar apa muslim menuduh kitab Yesaya sebagai karangan manusia?

Oke, ini pertanyaan mendasar. Dari mana Anda bisa membuktikan bahwa Alquran berasal dari Tuhan?

Jawabannya adalah: Dari mulut Muhammad yang bilang.

Karena Muslim tidak bisa memberikan bukti atas klaim-klaimnya tersebut, maka satu-satunya jalan adalah dengan menguji isi dari kitab masing-masing, mana yang menurut logika paling sesuai dan bisa diterima sebagai "Berasal dari Tuhan".

Muslim percaya kalau surat Al-Alaq adalah ayat-ayat pertama yang diturunkan oleh Awloh.
Surat Al-Alaq tersebut antara lain:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
6. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
7. karena dia melihat dirinya serba cukup.
8. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).

Kalau kita meresapi kata-kata dari surat Al-Alaq di atas, layakkah itu sebagai ucapan-ucapan Tuhan? TIDAK!
***********

Romadi respon :

dalam hal ini saya akan ringkas bantahan Duladi diatas

1. mevonis bahwa penjelasan dari Muslim hasil dari doktrin
2. karena hanya beralasan sumbernya hanya dari Muhammad saw
3. karena dirinya tidak meresapi maka harus ditolak

dari ketiga point bantahan diatas adakah argumantasi yang bersikap obyektif untuk membuktikan bahwa yang di uji tersebut firman Allah atau tidak?

atau penilaian tersebut sangat kental nuansa subyektifitasnya?

kalau argumentasi tersebut memang obyektif maka kita harus memperhatikan / memberikan bantahan hanya pada argumentasinya saja,tetapi kalau penilaiannya bersikap sangat subyektif maka tidak salah kalau kita perlu kupas tuntas "pribadi" penilainya!

dengan kriteria seperti ini apakah ada yang tidak setuju?

logika Duladi yang pertama,sama sekali tidak ada argumentasi yang berarti karena sudah "menjudge" seperti itu maka apapun penjelasan /apologi dari pihak Muslim
tidak akan berarti karena dasarnya bukan logika dan hati nurani tetapi berdasarkan "emosi"

logika yang kedua,logika tersebut juga tidak jauh beda karena dasarnya percaya dan tidak percaya,apakah Nabi Muhammad itu nabi atau bukan!

kalau didalam pikiran dan hatinya "sudah tertanam" bahwa Nabi Muhammad bukan nabi maka apapun penjelasan tidak akan berarti ,soal tersebut sama meyakinkan orang yahudi untuk mengakui Yesus Almasih atau bukan!.

logika yang ketiga yaitu berdasarkan "subyektifitas" pembaca meresapi atau tidak, argumentasi ini juga sama sekali jauh dari penilaian obyektfitas,justru cara logika ini perlu diingatkan dengan pesan yesus!

7:6 "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu."

sebuah ilustrasi yang yang menarik untuk menguji argumentasi duladi tersebut!

kenapa Anjing dan Babi mengoyak-oyak sesuatu yang Kudus dan berharga??
karena ia tidak tahu kalau yang dikoyaknya tersebut barang yang perlu dihormati dan sangat berharga!

ini sama dengan Manusia yang karena tidak tahu dan tidak mau tahu mengoyak-oyak sesuatu bukan berdasarkan pengetahuannya tetapi berdasarkan ketidak tahuannya ,karena ia tak sanggup meresapinya

Duladi menulis

Sebelumnya di topik lain, saya telah berusaha mencerahkan bahwa yang dimaksud dengan kata 'bacalah' di situ adalah keinginan Muhammad agar para pengikutnya mau atau bersedia membaca kitab karangannya.

Memang, di saat Muhammad menuliskan ayat pertama tersebut, Alquran belum berbentuk. Tapi ini sebagai suatu awal, dan ini sudah direncanakan oleh Muhammad secara matang, bahwa mulai dari saat ini dan seterusnya dia akan terus memunculkan ayat-ayat baru sampai akhirnya terwujud cita-citanya dalam menciptakan sebuah kitab suci.

Jadi kata "bacalah" di awal-awal kitabnya tersebut adalah sebagai suatu PERMINTAAN dari Muhammad agar kitabnya dibaca, seperti orang-orang Yahudi yang gemar membaca
Taurat dan orang-orang Nasrani membaca Injil.


Jawab

Dalam hal ini Duladi menganggap bahwa kata “bacalah” hanyalah agar orang bersedia membaca kitab alQur’an!

Maka pertanyaan yang mesti dijawab oleh Duladi adalah

1. dari mana anda bisa menyimpulkan seperti itu? Apakah berdasarkan bukti-bukti yang nyata atau hanya fantasi anda?

a. kalau kalimat baca tersebut untuk memerintahkan orang lain membaca “kitabnya” kenapa saat itu justru jawaban pertama adalah “kebingungan” apa yang mesti dibaca?

b. kalau kalimat baca agar orang bersedia membaca kitabnya kenapa pada saat itu Nabi harus ketakutan??

c. kalau kalimat “baca agar orang membaca kenapa harus mencari tahu kepada “Waraqah bin Naufal” tentang makna pertemuan dengan Jibril pertama tersebut?

Sekali lagi saya mengharapkan diskusi ini berdasarkan bukti / argumentasi yang berdasar bukan argumentasi yang berdasarkan asumsi dan fantasi!

Maka saat ini saya ingin tahu apakah dalam hal ini Duladi menyimpulkan seperti itu berdasarkan bukti atau hanya asumsi!

Pembaca yang akan menilai!!
++++

Duladi menulis

Muhammad begitu terpesona oleh kemampuan orang-orang Ahli Kitab yang hafal kitab suci mereka di luar kepala seperti mengenal anak-anaknya sendiri. Ini terungkap dalam ayat Quran yang dia buat:

QS 6:20
Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman.

Dan dari konteks ini pula akhirnya kita jadi mengerti mengapa Muhammad meminta para pengikutnya menghafal ayat-ayat yang dia diktekan. Setidaknya, ini adalah salah satu cara dia untuk menandingi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mampu menghafal ayat-ayat kitab mereka di luar kepala seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.


Romadi Jawab

Muhammad terpesona kemampuan Ahli kitab yang menghafal Kitab diluar kepala??

Darimana anda bisa membuat kesimpulan seperti itu?

apakah ada Ahli Kitab saat itu yang hafal diluar kepala Isi Alkitab?

Dan kemudian Duladi coba mengaitkan soal tersebut dengan Qs 6:20

Tetapi sebaiknya Duladi memperhatikan betul ayat selanjutnya yaitu ayat 21

21. Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.

Tuduhan bahwa AlQur-an hanyalah karangan Muhammad dengan mengutip ayat tersebut tetapi di ayatselanjutnya sangat jelas sekali bahwa orang yang membuat kedustaan/kebohongan tentang Allah adalah orang yang aniaya dan merugi ?
= ada orang yang berbuat kesalahan tetapi kemudian menjelaskan dampak dari orang yang berbuat kesalahan tersebut adalah aniaya dirisendiri dan merugi??

Maka tuduhan tersebut bukan tuduhan yang punya dasar? Atau tuduhan yang hanya berdasarkan tendesius semata….. maka saatnya anda menjelaskan!!

Dan Duladi mengulangi lagi tentang soal “hafalan luar kepala” pada saat itu?
Sekali lagi apakah Duladi bisa membuktikan argumentasinya atau ia hanya sedang berfantasi/berasumsi saja…..?????
++++++

Duladi menulis

Romadi berusaha menjelaskan makna kata "bacalah" memakai pendekatan-pendekatan yang miring dan dibuat-buat agar tampak seolah ayat tersebut memiliki makna yang dalam.

Kalau dia mengatakan membaca adalah suatu hal yang terutama dalam membentuk kebijaksanaan/hikmat adalah tidak benar. Sebab sebagian besar masyarakat di Timur Tengah tidak bisa membaca, dan mereka lebih mengandalkan pendengaran.

Jawab

Perhatikan betul argumentasi anda!!

Apakah anda sedang membantah dengan memperhatikan argumentasi atau hanya menilai”pribadi” yang dianggap menilai dengan pendekatan miring-miring?

Apakah anda bisa menjelaskan tentang “pendekatan miring-miring’?

Sebaiknya perhatikan betul perubahan yang terjadi di jazirah Arab pada saat sebelum kenabian Muhammad dan sesudah kenabian Muhammad!

Dari bangsa yang terkenal bodoh dan tidak dikenal dan sangat terbelakang kemudian menjadi seperti apa mereka?
Sebagai contoh konkrit:

Bagaimana seorang Umar bin Khatab yang sebelum kenabian/ Islam ia begitu bodoh sehingga tega mengorbankan anaknya sendiri dengan menguburkan hidup-hidup tetapi setelah keislaman ia menjadi Manusia yang begitu peduli kepada sesama bahkan saat ia menjadi pemimpinpun ia semakin peduli dengan nasib rakyat kecil!!.

Dan begitu banyaknya yang sebelum keislamannya begitu tidak pedulinya pada ilmu pengetahuan tetapi setelah keislaman mereka begitu haus akan keilmuan,maka kemudian banyak terlahir Ulama-Ulama yang Ilmuan dan Ilmuan yang Ulama setelah keislaman mereka! Maka banyak bermunculan para ahli dari timur tengah! Ahli Matematika,ahli kedokteran ahli perbintangan dll

Siapakah Al Jabar ,Ibnu Sina dll??

Dan apakah anda tahu siapa yang menggunakan angka 0(nol ) pertama kali? Apakah orang yunani (bangsa lain) atau orang arab/timur tengah?

Apakah anda masing menganggap bahwa perintah membaca hanya “membaca Al-Qur’an” saja?

Ringkasnya orang Arab yang sebelumnya tidak diperhitungkan kemudian termasuk kelompok yang diperhitungkan!

Bandingkan dengan apa yang terjadi pada “dunia Kristen” pada saat itu!
Apakah para Ilmuan di hormati atau mereka justru dihukum karena teorinya dianggap bertentangan dengan faham Gereja/ Al-kitab??

dan saya akan cerita sedikit tentang contoh kongkrit yaitu yang terjadi pada pribadi saya!

saya mungkin termasuk orang yang sedikit "tidak beruntung" karena punya latar belakang yang "tidak beruntung" (anggapan saya sebelum mengenal Islam) orang yang tidak punya misi dan visi hidup! sering minder karena sering disepelekan / diremehkan orang!

jadi kalau anda meremehkan saya ,maka saya termasuk orang yang sudah kenyang diremehkan orang pada masa anak-anak dan remaja!

jadi dalam menyikapi sikap meremehkan saya sudah tahu betul bagaimana caranya

walaupun saya terlahir dari orang tua Islam tetapi islam yang saya sebelum umur 18 tahun adalah Islam karena keturunan dan lingkungan,Islam sebagai budaya bukan islam sebagai Dien!

dan tentu saja mengalami proses yang sangat panjang (termasuk soal perbandingan agama Islam dan Kristen) hingga akhirnya mengenal Islam walau masih tahap awal,tetapi setidaknya perubahan yang sangat mendasar adalah perubahan semangat dalam mencari ilmu ,baik ilmu keagamaan maupun ilmu lain-lainya!

perubahan semangat hidup untuk berkarya baik untuk skala jangka pendek maupun untuk jangka panjang!

Romadi yang dulu rendah diri dan minder sudah dibuang jauh-jauh!

karena begitu manisnya merasakan keindahan Islam yang begitu besar merubah semangat dalam pribadi saya hingga saya pernah protes kepada orang tua,yaitu protes kenapa tidak dari dulu-dulu saya mengenal islam ,coba kalau mengenal islam sejak kecil mungkin akan berbeda (dan saya akui ini protes yang salah)!

menyadari kesalahan bahwa protes tersebut tidak benar maka semakin bersemangat untuk semakin menggali potensi diri, mengejar ketertinggalan yang selama 18 tahun tidak menggunakan waktu sebaik-baiknya.

dan sampai saat inipun saya merasa masih tarap belajar agar bisa lebih baik dan terus lebih baik!

dan sebagai tambahan ada pendidikan yang sangat membekas dari orang tua yaitu didik secara keras dan tegas tetapi komunikatif dan pendidikannya adalah bahwa setiap tindakan harus punya alasan dan argumentasi yang kuat dalam menentukan setiap pilihan dan tindakan = dilarang keras melakukan sesuatu yang hanya atas dasar ikut-ikutan semata apalagi "membebek buta" pendapat orang !

dan dengan mengenal Islam tersebut akhirnya mampu merubah dan memberi motivasi yang kuat akan haus ilmu pengetahuan!

jadi argumentasi-argumentasi saya bukan atas dasar "copy paste / membebek pendapat seseorang tetapi argumentasi selain berdasarkan suara hati nurani dan apa yang benar-benar saya rasakan.

penjelasan singkat / kesaksian tersebut hanya tambahan saja.

dan saya akan mengingatkan postingan anda!

sebelumnya anda menganggap bahwa perintah “baca” agar orang membaca Al-Qur’an tetapi kemudian anda menjelaskan bahwa orang Timur tengah saat itu banyak yang tidak bisa baca!

= apakah orang yang kebanyakan sekilingnya tidak bisa membaca tetapi kata "BACALAH" dianggap punya obsesi hanya untuk membaca kitabnya??

Apakah pernyataan anda tersebut tidak mementahkan tuduhan anda sendiri sebelumnya??


1. duladi menulis

Dalam konteks diskusi kita ini, adalah absurd apabila kita menghendaki adanya bukti-bukti riil dari apa yang kita klaim. Suatu misal: Anda mengatakan Muhammad 'kebingungan' di saat menerima kata 'bacalah'. Dari mana Anda tahu Muhammad bingung? Dari cerita Muhammad. Tentu, jawaban seperti ini subyektif, dan tidak bisa dijadikan pegangan untuk bukti.


********

romadi jawab

sebelumnya saya bertanya bukti adalah yang saya maksudkan bukti-bukti sejarah pada masa itu = argumentasi yang berdasarkan pijakan yang jelas bukan hanya asumsi,karena kalau hanya asumsi saja yang terjadi adalah debat kusir karena berbicara bukan atas dasar tetapi hanya sekedar berasumsi!

setidaknya pendapat-pendapat tersebut berdasarkan literatur yang jelas = bukan argumentasi asbun =asal bunyi!

dan kalau mau tahu seperti apa yang saya maksud bukti yang berdasar dengan senang hati saya akan memberi contoh!

****

Duladi menulis

Saya dan Romadi tentu masing-masing memiliki landasan berpikir yang berbeda:
1. Saya punya cukup bukti yang menguatkan bahwa Alquran bukan kumpulan ucapan Tuhan. Dan inilah yang mendasari tafsiran saya terhadap makna kata "bacalah" (suatu permintaan Muhammad agar kitabnya dibaca).
2. Sebaliknya Romadi, dia sudah telanjur percaya (beriman buta) kalau Muhammad benar-benar menerima wahyu dari Tuhan. Sehingga apapun yang dikatakan oleh Muhammad akan Romadi telan mentah-mentah tanpa ada rasa curiga sedikit pun, dan akan selalu berusaha mencari-cari maknanya.
*********


Romadi jawab

dul apa yang anda ringkas tersebut sedang menyerang pribadi nggak?? = hanya menonjolkan persoalan pribadi atau murni argumentasi??

sehingga anda menggunakan "terlanjur percaya = beriman buta" ?

buat Admin

ungkapan seperti termasuk kriteria yang akan anda hapus atau tidak ?
karena akan menyebabkan persoalan lebih mengarah pada persoalan pribadi / pertengkaran???

saya mohon penjelasannya agar saya bisa melakukan sesuatu sesuai koridor yang anda buat!! (walaupun ini di thread berbeda dari thread yang disediakan khusus untuk saya dan Duladi!!)

****

Duladi menulis

Saya sudah mencoba mengikuti landasan berpikir Anda, dan sama-sama mencoba meyakini bahwa surat Al-Alaq adalah ayat-ayat kiriman dari Tuhan. Tetapi ada banyak kejanggalan dari perkataan-perkataan itu, yang menyebabkan ayat tersebut tidak bisa diyakini sebagai perkataan Tuhan:

1. Kalau itu kata-kata Tuhan, seharusnya menggunakan kata ganti orang pertama (Aku). Tetapi dalam ayat tersebut, si pembicara memakai kata ganti orang ketiga (Dia) untuk menyebut Tuhan.

2. Kata-kata yang disampaikan lebih mengarah kepada ucapan-ucapan bijak dari seorang manusia daripada kata-kata pengetahuan dari Tuhan. (Bandingkan dengan kata-kata bijak Nabi Sulaiman dalam kitab Amsal).

Apabila itu sekedar perkataan Muhammad, maka makna kata "bacalah" tidak lain adalah untuk tujuan terselubungnya yang telah lama dia rencanakan, yaitu membuat kitab suci.

Sebab, firman Tuhan berbentuk kata-kata, bukan teks. Firman Tuhan diterima lewat pendengaran, bukan lewat pembacaan, kecuali bila firman itu dituliskan dalam bentuk huruf-huruf untuk dibaca di kemudian hari

*********


Romadi jawab

setelah memperhatikan penuturan anda ini sepertinya sudah semakin jelas seperti apa
kriteria anda mengenai "Firman Allah"

1. harus menggunakan kata orang pertama
2. kalau Tuhan disebut sebagai orang kedua apalagi ketiga maka itu bukan firman Tuhan

benar nggak ringkasan saya? kalau nggak benar sebaiknya dikoreksi seperti apa kriteria Firman menurut anda dengan patokan penjelasan tersebut!

dan sebaiknya kriteria yang anda buat tersebut sebaiknya anda gunakan untuk menilai / mengukur alkitab sebagai firman Allah atau tidak! = sebelum mengukur kitab lain!

apakah didalam Alkitab Allah sering disebut sebagai orang pertama= aku atau sebagai orang kedua atau ketiga ?



Duladi menulis

Kita tentukan, bahwa yang dijadikan pijakan di sini adalah:
1. KITAB SUCI MASING-MASING (Quran, Hadist, dan Alkitab).
2. ARGUMENTASI/PENAFSIRAN YG MASUK AKAL TERHADAP SUMBER-SUMBER DI ATAS.

Kenapa saya untuk sementara mengabaikan catatan-catatan lain di luar sumber-sumber itu?

Begini.

Seandainya saya, dalam apology yang saya buat, saya menampilkan tulisan bapa-bapa Gereja, apa Anda percaya? Tentu Anda tidak akan percaya, dan akan mengatakan tulisan-tulisan Bapa Gereja itu sudah dipalsukan oleh pihak gereja, terutama oleh Kaisar Konstantin di abad ke-4 dan Gereja Katolik (Paus) di abad-abad berikutnya.
Romadi jawab

point no 1. saya setuju
point no 2 perlu diperjelas karena akal dan logika bersikap netral maka hendaknya kalau bersandar kepada yang anda sebutkan maka hendaknya dalam penafsiran tersebut bukan penafsiran sepotong-sepotong!

karena penafsiran sepotong-sepotong lebih cenderung hanya menyampaikan "pembenaran bukan kebenaran"

sedangkan untuk tentang tulisan-tulisan lain (bapa gereja dll) itu juga bukan masalah untuk dijadikan argumentasi demikian juga sebaliknya!

justru dalam hal ini kita menghindar dari sikap penilaian percaya atau tidak percaya,karena kalau dasar diskusi hanya soal tersebut sampai kiamat diskusi tidak akan ada gunanya karena akhirnya ilmu pengetahuan hanya menjadi pembenar :percaya atau tidak percaya saja!

dan yang paling penting yang dibahas itu soal apa??? kalau soal Kristen maka hendaknya berdasarkan literatur Kristen sedangkan soal Islam Literatur Islam!

persoalan ini sangat penting karena persoalan literatur seperti "bahasa" maka bahasa yang digunakan adalah bahasa yang nyambung!

karena kalau bahasa tertentu di pahami dengan bahasa lain maka hasilnya tidak sesuai dengan makna sebenarnya!

sebagai contoh kalau saya mendiskusikan soal "penyaliban yesus" maka saya harus beragumentasi dengan literatur Kristen,baik al kitab,tulisan-tulisan bapa gereja dll

sebaliknya kalau anda mau mempersoalkan soal "sejarah muhhammad" maka hendaknya juga begitu!

itulah diskusi yang berdasarkan bukti bukan diskusi hanya berbantah-bantahan tanpa dasar,apalagi hanya berdasarkan asumsi dan fantasi saja!!

dan yang terpenting adalah!!(ini bukan menyerang pribadi anda tetapi mengingatkan kepada siapa saja termasuk saya)

mempersoalkan,membantah,menjelaskan itu mudah kalau semua hanya dilakukan sekedarnya/asal-asalan!

tetapi bagaimana mempersoalkan dengan argumentasi dan dasar yang kuat,membantah dengan argumentasi yang punya dasar yang kuat apalagi menjelaskan dengan argumentasi yang dasar yang kuat itu membutuhkan energi yang sangat banyak,karena dibutuhkan keluasan ilmu dll

dan inilah yang saya harapkan karena bisa bermanfaat buat "pelaku diskusi" maupun pembaca dan penonton diskusi!!

dan kita lihat saja siapa yang mampu seperti itu!

****

sebelumnya saya mengingatkan soal "menyerang pribadi"
dengan menulis

dul apa yang anda ringkas tersebut sedang menyerang pribadi nggak?? = hanya menonjolkan persoalan pribadi atau murni argumentasi??
sehingga anda menggunakan "terlanjur percaya = beriman buta" ?

Tanggapan duladi:

Okelah, saya mohon maaf. Apakah permintaan maaf saya ini masih kurang?

*********
Romadi jawab

persoalannya adalah yang membuat aturan soal itu adalah anda sendiri,jadi kenapa anda harus minta maaf kepada saya??

saya mengingatkan soal ini adalah ingin tahu apakah Admin / anda konsisten dengan aturan yang dibuat sebelumnya??

apakah komitmen yang dibuat sebelumnya kalau ada yang mempostingkan "menyerang pribadi harus minta maaf atau ada "sanksi lain"???

dan apakah hanya postingan itu saja??

bagaimana dengan postingan ini??


****


DUladi menulis :


Ha ha ha ha.....
Anda ini sedang mengulas atau sedang ngejreng?

Kalau Anda tidak pernah membaca kalimat-kalimat sajak, sebaiknya Anda harus memperdalam lagi wawasan Anda tentang bahasa.

Bila saya berdebat dengan Anda, saya ibarat sedang berbicara atau mengasuh seorang anak SD kelas 1.

******
Romadi jawab

sebelumnya saya sudah saya sampaikan silahkan kalau anda mau menyerang pribadi saya ... dan saya tidak akan membalas tetapi akan mengingatkan = bukan protes!!

apakah postingan ini bagian dari argumentasi atau menyerang pribadi?? yang akhirnya memicu pertengkaran??

silahkan anda nilai sendiri karena anda yang membuat aturan!

sedangkan saya kan tamu...yang diundang!!!

jangan anggap ini "protes" tetapi anggaplah bahwa ini untuk mengingatkan terhadap komitmen yang dibuat sendiri!!

semoga anda mengerti!!








1 komentar:

pepeto said...

Ada 40 pembohong yg memceritakan tentang hari depan, mereka hidup di zaman, masa dan tempat yang berbeda namun cerita mereka sama tentang hari depan. Kemudian ada pula seorang pembohong yang menceritakan tentang hari depan, tapi ceritanya berbeda dengan 40 pembohong2 itu. cerita bohong manakah yang paling benar tentang hari depan?
Buku manakah yang paling akurat kebenarannya? buku yang memuat banyak referensi penulis atau hanya 1 referensi?
Gambaran manakah yang paling jelas?gambaran yang dilihatkan dari banyak sisi atau hanya dari 1 sisi?